Ketika baru lulus dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, Bagas Wicaksono, seorang alumni Jurusan Akuntansi, sempat bingung menentukan arah karier. Teman-temannya sudah banyak yang melamar ke kantor akuntan publik, bank, dan perusahaan manufaktur. Namun Bagas merasa dunia kerja berkembang lebih cepat dari sekadar pencatatan buku besar atau laporan laba rugi. Ia mulai melihat peluang baru yang semakin ramai dibicarakan: karier akuntansi di bidang IT, khususnya implementor ERP (Enterprise Resource Planning).
Dalam proses pencariannya, Bagas menemukan bahwa ERP bukan sekadar software, tetapi sistem manajemen terintegrasi yang menghubungkan keuangan, persediaan, produksi, SDM, hingga operasional dalam satu alur data. Penelitian tahun 2024 menunjukkan bahwa ERP meningkatkan efisiensi aliran informasi dan integrasi antar departemen dalam perusahaan (Stekom, 2024). Bahkan studi lain mencatat bahwa ERP secara signifikan meningkatkan kualitas laporan keuangan — membuatnya lebih akurat, relevan, dan tepat waktu (JIESA, 2024).
Bagi lulusan akuntansi seperti Bagas, ini adalah kabar baik. Mengapa? Karena dasar utama implementasi ERP adalah proses bisnis dan siklus akuntansi. Saat perusahaan ingin mengatur struktur akun, alur persetujuan, kontrol internal, atau integrasi transaksi penjualan hingga muncul di laporan keuangan, orang yang paling memahami alurnya adalah lulusan akuntansi — bukan programmer. Banyak penelitian menegaskan bahwa keberhasilan ERP sangat dipengaruhi pemahaman akuntansi dan proses bisnis, bukan hanya teknologi (Binus, 2024; UPJ, 2023).
Ketika Bagas mulai belajar dunia ERP, ia sadar bahwa peran implementor ERP bukan mengerjakan coding kompleks, melainkan menjembatani kebutuhan bisnis dengan sistem. Ia memetakan proses, memahami alur transaksi, menyesuaikan modul ERP, serta memastikan laporan keuangan yang dihasilkan sesuai standar PSAK. Itulah kemampuan yang sudah ia miliki sejak kuliah, kini hanya dipadukan dengan teknologi modern.
Seiring pertumbuhannya, Bagas semakin melihat bahwa peluang karier lulusan akuntansi di bidang ERP sangat besar. Studi pada 100 UKM di Indonesia mencatat bahwa implementasi ERP memberikan dampak positif dan meningkatkan kualitas informasi akuntansi secara signifikan (JBIS, 2023). Perusahaan kecil dan menengah mulai mengadopsi ERP karena mereka ingin meningkatkan efisiensi dan transparansi. Artinya, kebutuhan akan implementor ERP — terutama yang memahami akuntansi — terus meningkat dari tahun ke tahun.
Banyak alumni muda yang mungkin berpikir bahwa “lulusan akuntansi bukan orang IT”. Namun kisah Bagas menunjukkan bahwa lulusan akuntansi justru memiliki fondasi paling kuat untuk masuk ke dunia sistem informasi. ERP membutuhkan kemampuan memahami proses bisnis, menyusun laporan keuangan, serta memastikan integrasi data berjalan dengan benar — kemampuan yang sudah diasah oleh mahasiswa akuntansi sejak semester awal.
Hari ini, Bagas bekerja sebagai implementor ERP di sebuah perusahaan teknologi nasional, membantu perusahaan-perusahaan melakukan transformasi digital. Perjalanannya membuktikan bahwa lulusan akuntansi tidak harus terpaku pada profesi konvensional. Ada jalur baru yang semakin relevan: karier akuntansi di bidang ERP, kombinasi antara logika bisnis dan teknologi yang kini sangat dibutuhkan industri.
Bagi para alumni FEB Unsoed, terutama yang baru lulus, ini adalah saat yang tepat untuk melihat peluang lebih luas. Dunia IT bukanlah dunia yang tertutup bagi lulusan ekonomi. Jika Anda memahami akuntansi dan mau belajar sistem, Anda memiliki peluang besar untuk menjadi implementor ERP — profesi strategis di era digital, dicari oleh banyak perusahaan, dan memiliki pertumbuhan karier yang sangat cepat.